Sejuknya Gerimis Bulan Maulid
“Malam 12 Rabiul Awwal telah datang. Umar kecil bersama sahabat-sahabatnya mengangkat ambengan, makanan yang akan menjadi sajian peringatan maulid malam itu. Mereka dengan suka cita mendengarkan bunyi rebana di tabuh, suara merdu shalawat mengiringinya anak-anak kecil yang berlarian ke Masjid ditengah barisan pohon Jati yang meranggas itu. Tak ada nyanyi caci maki, tak ada benci, mereka sedang merayakan cinta.”
---
Masyarakat muslim dibanyak tempat menyelenggarakan acara khusus peringatan Maulid Nabi. Tasyakuran, kenduri, dan tradisi sejenisnya telah berkembang semenjak berabad silam, terutama semenjak kehadiran dakwah Islam di Nusantara. Berbagai bentuk tradisi untuk mempengaruhi maulid, tidak lain adalah wujud rasa syukur tak terhingga, akan lahirnya kanjeng Rasul Muhammad SAW yang telah membawa obor bagi peradaban manusia. Kira-kira begitulah sebagian besar jawaban masyarakat yang menggelar berbagai tradisi.
Karena banyaknya kegiatan peringatan maulid nabi dengan berbagai bentuk, ada seorang sahabat berseloroh: “setiap bulan Rabiulawwal, ini bulan panennya para mubaligh dan penceramah agama”. Bukankah begitu kenyataannya. Saat bersyukur, memang banyak orang rela berkorban harta benda, untuk mengungkapkan kesyukurannya. Dan banyak keyakinan seberapa banyak pengorbanan, sebegitu pula balasan kebaikan yang didapat. Peribahasa bijak Arab menegaskan: “al-ajru bi qadri al-ta’ab” (upah dan pahala tergantung kualitas dan kuantitas usaha dan susah-payah).
“man adhama maulidi kuntu syafialahu yaumal qiyamah”. Tak ada penjelasan secara tegas tentang arti dan cara menghormati, mengagungkan, dan merayakan hari tanggal kelahiran itu. Kita dipersilahkan secara kultural untuk menunjukkan rasa kesyukuran dan penghormatan kita atas kelahiran dengan berbagai cara sesuai tradisi masing-masing. Yang terpenting adalah niat suci, ikhlas, dan melakukan dengan khusyu’ (rendah hati), tafakkur (kritis), dan tadabbur (kontemplatif) atas hadirnya Rasulullah Muhammad SAW.
Peringatan maulid ini sebenarnya telah lazim, sebagaimana lazimnya peringatan atas kelahiran suatu negara, organisasi, kampus, dengan bahasa dies maulidiah atau peringatan Hari Lahir (HARLAH), biasanya di gelar sebagai tanda syukur, mengembalikan spirit, dan bahkan sebagai media rejuvenasi (menemukan semangat awal) negara, wilayah, kampus, organisasi dan bahkan partai.
Menurut peneliti budaya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bisri Effendi (2006) di Arab sendiri, tradisi memperingati hari lahir, haflat liyaumi al-milad baru muncul ketika bangsa Arab telah berinteraksi langsung dengan dua bangsa dan budaya besar, Parsi dan Rowawi. “Tak ada bukti yang memperlihatkan bahwa di masa Nabi maupun khulafaurrasyidin peringatan hari lahir Nabi dalam bentuk perayaan dan sejenisnya terselenggara. Mungkin karena itulah ideologi Wahabisme yang berkuasa di Arab Saudi melarang keras berbagai macam peringatan maulid Nabi, karena dianggapnya bid’ah, dan karena itu sesat.” Ungkap Bisyri Effendi. Implikasi dari tuduhan inovasi yang merusak (bid’ah dhalalah) terhadap peringatan Maulid Nabi ini tentu berlebihan. Bayangkan sebuah acara mengungkapkan rasa syukur, penghoramatan atas kelahiran nabi yang dilaksanakan mulai tokoh politik, bahkan presiden, wapres, menteri berikut isteri, para sultan, masyarakat muslim ujung timur sampai ujung barat Nusantara ini, para pengunjung dan pedagang di alun-alun Yogya dan Cirebon seluruhnya, dapat dituduh sebagai pelaku bid’ah.
Jadi tak perlu berlebihanlah dalam menggunakan tuduhan bid’ah terhadap pelaksanaan peringatan maulid nabi. Cara orang menghormati dan mengagungkan hari lahirnya memang tak ada standarisasi atas ekspresi penghormatan, asal tidak melawan norma agama dan sosial yang ada, tentu hal itu tidak menjadi masalah. Artikulasi penghormatan dan pengagungan yang dapat dikreasi menurut kultur, dan tak menjadi alasan untuk melakukan persekusi terhadap tradisi yang dimaksud. Kita mesti dapat menempatkan peringatan maulid nabi ini sebagai upaya lahir batin untuk mendapatkan kepuasan psikologis, kepuasan batin secara kolektif. Dimana dalam momen ini diselenggarakan berbagai siraman rohani, bersama-sama membacakan shalawat sebagai bentuk amal kebaikan, serta memperoleh inspirasi baru sebagai hasil dari proses tafakkur dan tadabbur selama peringatan Maulid Nabi ini dijalani.
Kita mesti menyadari ada banyak orang yang mendapat kelimpahan besar, baik material maupun spiritual atas peringatan maulid nabi ini. Mulai para penceramah, para pejabat, para pedagang sampai jasa catering, jasa transportasi, tukang sound, penyewaan terop sampai para pemulung. Mereka yang merasakan “panen raya” sepanjang bulan maulid. Para pejabat akan memanen legitimasi bagi kelangsungan politiknya, dengan hadir dan bershalawat diacara maulid. Dan para pedagang dan penyedia jasa akan lebih banyak memperoleh keuntungan finansial dan juga kepuasan batin, dari kegiatan peringatan ini. Bukankan keberkahan yang makin meluas inilah yang dapat memberikan manfaat dan maslahat kepada banyak orang. Peringatan maulid nabi ini adalah bertetes embun di lepas kemarau panjang negeri ini, embun jasmani dan sekaligus embun rohani.
Maka sesungguhnya peringatan maulid, dapat dimaknai sebagai bi’dah dalam pengertian postif. Dimana inovasi dan kreativitas komunitas muslim berkembang untuk mengartikulasikan rasa hormatnya kepada Nabi. Tak perlu ada yang melakukan caci-maki, persekusi atau bahkan dihalang-halangi. Dan akhirnya, semoga sebanyak mungkin orang dapat mendapatkan berkah dari kreativitas yang bersumbu pada penghormatan dan kecintaan kepada kekasih Allah, kanjeng Rasul Muhammad SAW. Wallahu a’lam bishawab
* Dosen Tetap pada Program Pascasarjana INSURI Ponorogo
**Tulisan ini pernah di muat di alittihad.or.id