Perang Nasab

08 Juni 2023 06:56
Perang Nasab
Oleh Rosadi Jamani *

Sumber Gambar: WaliNusantara.com

"Kita sebagai umat Islam tidak pantas menuduh seorang ulama yang seorang mufti, ya seorang mufti yang lebih alim, lebih paham dari pada Hadratus Syech Kiyai Hasyim Asy'ari"

"Kakek-kakek kami, datok-datok kami datang ke Indonesia bukan untuk menjajah kalian, tapi mencetak ulama kalian. Andai datok-datok kami tidak ada, maka kalian masih menyembah pohon, menyembah kuburan"

Ungkapan di atas hilir-mudik di Tiktok. Pasti memicu perdebatan panas. Ditambah merendahkan pendiri NU, suasana semakin membara. Dibalas, "Siap menunggu komando kiyai!" Temanya soal nasab, soal zuriyat Rasulullah. Ujungnya soal pribumi vs pendatang. Soal ini lagi panas wak. Apalagi ditambah suasana politik jelang Pilpres, soal nasab ini selalu ramai dan fyp di Tiktok. Untungnya hanya ribut di Tiktok, bukan di dunia nyata.

Persoalan ini terus melebar. Yang satu merasa paling keturunan Rasulullah. Yang satunya menuding keturunan palsu. Kalau benar, test DNA. Sampai makam Rasulullah minta dibongkar, ambil sampel dari jasad Rasulullah untuk test DNA. 
Belum lagi adu kitab nasab. Nama Ubaidillah yang jadi pemicu perdebatan. Nama itu tiba-tiba muncul dalam silsilah Nabi Muhammad. Namun, tetap ada pembelaan dengan kitab lain. Sampai ada menantang debat secara terbuka antara dua kubu untuk membuktikan, siapa paling benar dan ilmiah. 

Perdebatan belum berhenti. Soal pahlawan, orang pribumilah yang mengusir penjajah. Sementara pendatang malah didatangkan penjajah untuk meredam gejolak pribumi. Tuding-menuding di ruang publik. Ribut di mana-mana sampai isi Tiktok sepertinya soal itu melulu. 

Pertanyaannya, untuk apa perdebatan soal nasab ini? Eh...lho yang suka ngaku turunan nabi kemana-mana, untuk apa sebenarnya perdebatan ini. Lho..juga sebagai pendukung kiyai pribumi, untuk apa semua ini? Untuk Indonesia, untuk Islam, untuk Pilpres, untuk apa sih. Apakah berfaedah? Atau malah unfaedah. Apakah debat ini membuat Islam lebih maju, atau malah terpuruk. Cina sudah membuat matahari buatan, Amerika dengan teknologi nanonya, Iran sudah meluncurkan satelit, Jepang dengan robotnya, Korea dengan Hpnya. Di sini, debatnya sampai fyp hanya soal nasab, pribumi vs non pribumi, asing aseng, bid'ah, haram, kafir, dsb.

Sebaiknya kembali ke falsafah melayu. "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" Ketika berada di negeri orang, hormati dan hargai adat istiadat di negeri itu. Wali Songo menyebarkan Islam dengan falsafah itu. Sehingga, dalam penyebaran Islam di nusantara, tidak ada perang, tidak ada adat budaya yang dihilangkan. Masuknya Islam ke negeri ini secara lembut, tanpa merusak tatanan yang sudah ada. Belajarlah soal kearifan lokal. Jangan merasa paling alim dan berilmu sehingga merendahkan orang lain. Musuh utama negeri ini, orang yang suka merasa lebih, apalagi merasa lebih dari Tuhan. Negeri ini akan maju bila debatnya soal kemaslahatan umat, sains dan teknologi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. So, mari berdebat untuk sesuatu yang membawa Indonesia lebih maju lagi.

*Rosadi Jamani, Peneliti UNU Pontianak, Ketua Satupena Kalimantan Barat, dan  Ketua Youtuber Kalbar Club (YKC)