Pemuda dan Ikhtiar Mengisi Kemerdekaan
Agustus, bulan penuh makna bagi rakyat Indonesia. 74 tahun yang lalu masyarakat Indonesia rela mengorbankan segalanya demi merebut kemerdekaan. Sekarang kemerdekaan sudah digenggam. Akan tetapi, perjuangan belum berhenti begitu saja, karena mempertahankan kemerdekaan itu lebih sulit dibandingkan merebutnya.
Remaja sebagai generasi muda penerus bangsa merupakan ujung tombak keberlangsungan suatu negara. Melalui mereka perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilanjutkan. Kutipan pidato bung Tomo (1945) saat membakar semangat pemuda Surabaya pada 10 November 1945 “lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita “merdeka atau mati”. Mengambil hikmah dari kutipan pidato tersebut, bahwa remaja merupakan aset penting dalam suatu negara. Remaja adalah striker pranata sosial guna membawa bangsa dan negara menjadi lebih progresif.
Pada era globalisasi ini, sebagian besar pemuda Indonesia mengalami pergeseran perilaku sosial yang ditunjukkan dengan sifat apatis terhadap kondisi lingkungan. Salah satu contoh pergeseran perilaku remaja akibat globalisasi adalah bergantungnya mereka pada keberadaan gadget. Akibat dari ketergantungan itu, mereka menjadi tidak peduli dengan realita sosial dan mengalami degradasi moral. Kemudian pemuda menemukan ruang baru dan terjebak rapi dalam narkoba dan tawuran. Seorang Antropolog Amerika J.L. Gillin (1923) menyebut konfigurasi perilaku dan kebudayaan demikian dapat membahayakan kelangsungan hidup suatu kelompok sosial. Remaja dan patologi sosial saat ini bahkan nyaris tiada batas dan melebur dalam kesatuan. Lebih lanjut Edwin H. Sutherland (1945) menjelaskan banyak terjadi perilaku menyimpang demikian disebabkan karena adanya sosialisasi yang tidak tepat karena kurangnya kesempatan untuk belajar secara konvensional.
Menyikapi kenyataan saat ini sungguh miris dan bertolak belakang dengan kondisi pemuda di zaman perjuangan kemerdekaan. Mereka mempertaruhkan pikiran, jiwa, dan raga untuk merebut kemerdekaan dari penjajah yang hasilnya belum bisa diketahui oleh mereka. Arus globalisasi telah mengalirkan derasnya tantangan bagi pemuda saat ini, hingga nilai-nilai nasionalisme kemudian hanyut lalu terombang-ambing, bahkan bisa saja menghilang. Nasionalisme adalah suatu sikap yang cinta terhadap tanah air, selalu menjaga, menghargai dan melindungi. Mereka mencetuskan gagasan sumpah pemuda yang sangat berarti bagi masyarakat Indonesia. Sumpah pemuda tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dimaknai, diresapi, dan dilaksanakan dengan tulus ikhlas serta dijadikan semangat untuk terus berkarya demi kemajuan bangsa Indonesia.
Menyambut hari kemerdekaan Indonesia, rakyat Indonesia berbondong-bondong menghias rumah dan lingkungannya dengan pernak-pernik kemerdekaan. Lomba tujuh belas-an, konser musik, dan atraksi lain dilakukan. Semua orang tenggelam dalam euforia dan selebrasi. Tapi, janganlah melupakan esensi kemerdakaan Indonesia itu sendiri. Hal ini dikarenakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu semakin susah, apalagi di tengah derasnya arus globalisasi yang melanda di seluruh dunia.
Perayaan kemerdekaan Indonesia bukanlah tidak boleh dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Seperti ungkapan Bung Karno “Jas Merah” yang berarti jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah merupakan pengalaman paling berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta pondasi kepribadian bangsa, di mana dengan sejarah kita tahu persis ke mana arah dan tujuan kehidupan bangsa. Pemuda Indonesia yang berperan penting dalam kelangsungan berbangsa dan bernegara hendaknya mengetahui sejarah Indonesia, bukan hanya sekedar melakukan perayaan kemerdekaan semata. Selain dengan perayaan kemerdekaan, hal yang paling penting dalam memperingati kemerdekaan Indonesia adalah bagaimana kita mengisi kemerdakaan ini dengan hal-hal bermanfaat yang berdampak positif bagi bangsa dan negara. Diantaranya adalah belajar dengan giat, tidak mudah menyerah, serta selalu ingat dan menghargai jasa para pahlawan. Seperti kata Bung Karno, “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah bangsanya sendiri”. Semoga pada peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74 ini, pemuda Indonesia bangkit menunjukkan kemampuannya dan dapat terhindar dari penyakit globalisasi dengan menanamkan nilai-nilai positif dalam diri sehingga kembali kepada jati diri bangsa Indonesia.***

*) Ais Rosyida, Dosen Fakultas Tarbiyah INSURI Ponorogo.