Pendidikan Profetik; Nilai Pesan dan Gagasan Kuntowijoyo
Secara normatif-konseptual, paradigma pendidikan profetik Kuntowijoyo (2005) didasarkan pada (Q.S.3:110) yang artinya “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”. Berdasarkan ayat tersebut, terdapat tiga pilar utama yang mendasari munculnya pendidikan profetik yaitu; humanisasi, liberasi, dan transendensi. Tiga konsep tersebut, menjadi prasyarat bagi umat muslim untuk menjadi umat terbaik (the chosen people). Secara otomatis, umat muslim tidak bisa bermetamorfosis menjadi the chosen people secara instan, karena umat Islam disyaratkan untuk bekerja lebih keras dan berlomba-lomba kebaikan (fastabiquul khairaat) sebagaimana dalam penjelasan arti ayat di atas.
Pendidikan sebagai salah satu media penyadaran umat untuk menjadi yang terbaik kini memerlukan tiga pilar sebagaimana penjelasan di atas. Konsep ini yang meniscayakan pendidikan untuk memiliki pola transformative, sebuah pola pendidikan yang mampu memberikan pemahaman, transformasi pembelajaran yang tidak hanya bertumpu pada transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga transef nilai (transfer of value). Pendidikan transformative juga menegasikan pola pembelajaran yang hanya berpusat pada guru (teacher centerd), tetapi lebih pada pola pembelajaran yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk lebih mengaktualisasikan potensi akademisnya secara maksimal.
Salah satu usaha untuk mencoba melakukan perubahan dan pemaknaan terhadap pendidikan yang berbasis pada humanisasi, liberasi, dan transendensi demikian menjadi penting untuk menjadikan pemikiran Kuntowijoyo (1991) sebagai kunci keberhasilan misi pendidikan. Kuntowijoyo juga mencoba mengupayakan sebuah konsep “pengilmuan islam”, untuk menolak adanya dikotomi epistemologis antara Ilmu agama (akhirat) dan ilmu umum (dunia), antara Ilmu modern barat dan Ilmu tradisional Islam.
Pendidikan profetik dalam gagasan Kuntowijoyo harus berbasis pada ketiga pilar demikian. Menurutnya, ketiga pilar demikian merupakan interpretasi untuk mewujudkan misi pendidikan Islam yang holistik. Ketiga pilar harus beriringan dan berkesinambungan. Penjelasan lebih rinci mengengai ketiga pilar tersebut menurut adalah sebagai berikut;
Humanisasi. Humanisasi merupakan terjemahan kreatif dari “amar ma’ruf” yang memiliki makna asli “menganjurkan atau menegakkan kebajikan”. Dalam Ilmu Sosial Profetik, humanisasi artinya “memanusiakan manusia, menghilangkan kebendaan, ketergantungan, kekerasan dan kebencian dari manusia”. Humanisasi sesuai dengan semangat liberalisme Barat. Dalam konteks pendidikan, humanisasi ini berarti pendidikan yang mengajarkan anti-kekerasan (Susanto, 2004). Sebuah konsep pendidikan yang mampu membangun kepribadian manusia yang berkarakter terbuka, manusiawi, dan memiliki kesadaran yang tinggi ketika harus menghadapi realitas yang diliputi bertumpuk persoalan (Susanto, 2004). Pendidikan kini harus mampu menjawab kompleksitas persoalan umat dengan berbagai pendekatan. Pendidikan tidak hanya sebatas pengetahuan normatif, melainkan usaha empirik untuk mewujudkan misi humanis.
Liberalisasi. Liberasi adalah pemaknaan kreatif dari nahi munkar. Liberasi dalam Ilmu Sosial Profetik sesuai dengan prinsip sosialisme (marxisme, komunisme, teori ketergantungan, teologi pembebasan) (Kuntowijoyo, 1999). Dalam konteks pendidikan, konsep pendidikan yang membebaskan ini, sering merujuk pada pemikiran Paolo Freire, seorang mahaguru filsafat dan ilmu pendidikan dalam refleksi kritisnya terhadap sistem pendidikan di Brazil, ia pun mempersoalkan taqlid sebagai salah satu faktor yang melanggengkan bahkan memperparah penindasan rakyat miskin oleh penguasa. Freire menyebut metode seperti ini sebagai metode pendidikan gaya banking yang menindas (Dhakiri, 2000).
Transcendere. Adalah bahasa latin “transendensi” yang memiliki arti “naik ke atas”. Dalam bahasa Inggris adalah “to transcend” yang artinya “menembus, melewati, melampaui. Menurut istilah artinya adalah “perjalanan di atas atau di luar”. Yang dimaksud Kuntowijoyo (1991) adalah transendensi dalam istilah teologis, yakni bermakna “ketuhanan, dan makhluk-makhluk gaib”. Menurutnya, sudah selayaknya jika umat Islam meletakkan Allah SWT sebagai pemegang otoritas Tuhan Yang Maha Objektif dengan 99 Nama Indah itu. Pendidikan harus mampu menyapa dimensi spiritualitas sebagai asas dan akar berdirinya. Segala misi pendidikan untuk diupayakan menuju dimensi ketuhanan. Artinya, umat muslim yang tengah belajar hendaknya dapat menyeimbangkan antara rasionalitas dan spiritualitas untuk menuju Allah Swt. Segala hal yang dipelajari adalah dari dan untuk Allah Swt.
Humanisasi, liberasi, dan transendesi dalam pendidikan profetik menurut Kuntowijoyo demikian merupakan salah satu asas murni untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan. Esensi dari trilogi demikian adalah bahwa pendidikan profetik harus memiliki nilai humanis dan memberikan objek material pendidikan sepenuhnya kepada manusia dengan disertai dimensi transendental untuk memperkuat gerak laju pendidikan.
Dengan demikian, catatan penting yang harus digarisbawahi dalam pembahasan ini adalah. Pertama, menjadikan nilai-nilai pendidikan profetik sebagai upaya menciptakan pendidikan Islam yang penuh cinta, toleransi, tenggang rasa, kebajikan, menghargai perbedaan dan sikap-sikap kemanusiaan. Kedua, pendidikan semestinya mewarisi misi kenabian Muhammad sebagai model proses pembelajaran, yaitu mendasarkan diri pada kesadaran bahwa pendidikan Islam mengajarkan kearifan. Segala perilaku manusia harus didasarkan pada aturan dan tuntunan Tuhan. Ketiga, ilmu pengetahuan tidak semestinya diposisikan secara dikotomis. Semua ilmu tentu memiliki nilai-nilai universalitas yang luhur. Oleh sebab itu, obektifikasi dalam memandang sebuah ilmu menjadi sangat penting.***

*) Moh. Masduki, Dosen Fakultas Tarbiyah INSURI dan Kandidat Doktor Pendidikan Islam Multikultural Universitas Islam Malang (UNISMA)