Obituari: Bisri Effendy, Jurnalisme Kebudayaan dan Kisah Persahabatan

August, 19 2020 19:09
Obituari: Bisri Effendy, Jurnalisme Kebudayaan dan Kisah Persahabatan
Oleh Murdianto An Nawie

Bisri Effendy, seorang peneliti LIPI, founder Yayasan Desantara dan banyak mendapat pengakuan sebagai guru riset bagi banyak anak muda NU. Bisri Effendy menerbitkan banyak tulisan diberbagai buku, jurnal, majalah dan juga dikenal menulis pengantar bagi buku Gus Dur, ‘Tuhan tak Perlu Dibela’. Tulisan Bisri Effendy tentang Reyog misalnya, banyak menjadi rujukan peneliti sesudahnya. Ratusan tulisannya yang lain tentang ekspresi kebudayaan lokal juga banyak mewarnai media yang mengusung isu-isu kebudayaan.

Selain peneliti dan penulis, Bisri Effendy adalah seorang mentor bagi banyak penulis, peneliti, akademisi dan aktifis yang menggeluti kerja kebudayaan. Banyak kaum muda NU yang bergerak dalam kerja kebudayaan mengenal beliau sebagai senior sekaligus seorang guru. Beliau terlahir di Jember pada tahun 1953, dan dalam diri beliau mengalir darah Ponorogo. Bisri Effendy lahir di Jember, Jawa Timur pada 12 Maret 1953. Almarhum merupakan alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur. Ia menyelesaikan studi S1-nya di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan melanjutkan studinya di Leiden University. Bisri Effendy juga bergelut di bidang riset. Ia aktif di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan mendirikan Yayasan Desantara. Kini, Mas Bisri -begitu cara penulis dan sahabat memanggil beliau- telah meninggalkan kita semua pada 17 Agustus 2020, saat malam bergerak larut.   

Penulis mengenang, perjumpaan perdana dengan Mas Bisri Effendy. Saat itu  sebuah forum Halaqah pada 30 Mei-2 Juni 2002 digelar di kelurahan Kertosari Babadan Ponorogo. Saat itu penulis masih tinggal di Tulungagung, dan sedang merintis sebuah komunitas kajian. Mas Inung (Ahmad Zainul Hamdi) –sahabat sekaligus senior- telah membuka kesempatan penting untuk bertemu dengan mas Bisri. Sosok penting yang kemudian banyak menginspirasi penulis bersama komunitas. Mas Inung dkk melalui komunitasnya Merak Lingkar Kaji Budaya, menggelar forum Halaqah tentang Reyog Ponorogo bersama Desantara Institut for Cultural Studies yang didirikan Mas Bisri Effendi.

Mas Bisri dengan Desantara telah mengantarkan penulis mengenali corak kajian dan tulisan yang khas melalui Majalah Desantara, Jurnal Srinthil dan Buletin Ngaji Budaya. Setelah forum tersebut, penulis terlibat pada akhirnya terlibat dalam banyak interaksi baik secara formal maupun informal dengan Mas Bisri dengan Desantara-nya. Kegiatan ‘persahabatan’ itu memberi ruang bagi penulis untuk berjumpa dengan para aktivis kajian dan pelaku kebudayaan dari seluruh Nusantara. Berbagai aktifitas halaqah, diskusi dengan berbagai format,  digelar dari Bogor, Malang, Kediri, Jember, Tengger, Cirebon, Mojokerto dan beberapa tempat lain. Dalam kesempatan serupa inilah, kami menempati kamar yang yang sama bersama mas Bisri, dan juga ajengan Acep Zamzam Noer, seorang tokoh sastrawan Sunda. Pengalaman tersebut terjadi dalam aktifitas pertemuan selama sekitar empat hari di kawasan Trawas Mojokerto.

Di sela-sela kesibukan beliau dan kesempatan berkunjung ke Ponorogo, Mas Bisri berkenan memberikan materi pada sebuah seminar yang digelar khusus di INSURI Ponorogo, karena beliau hadir di Ponorogo. Juga dalam sebuah agenda peringatan Maulid Nabi, Mas Bisri berkenan menjadi sahabat diskusi bagi anak muda NU pada tahun 2005. Dan pada kegiatan sekecil itu, mas Bisri masih sempat membuat tulisan, yang masih saya simpan filenya hingga kini. Kesempatan yang hanya mungkin terjadi karena kemurahan hati mas Bisri.  

Penulis berjumpa dengan banyak sahabat aktivis kajian dan pelaku kebudayaan dari seluruh belahan Nusantara. Dari komunitas Bugis Makassar, komunitas Dayak, sahabat dari tanah Kalimantan, komunitas Cigugur Kuningan, komunitas Azan Tasikmalaya, Komunitas Samin, berbagai aktifis muda NU dari berbagai kota. Kami mendapatkan kesempatan bersahabat dengan berbagai kelompok agama minoritas, ‘gender’ ketiga dan seniman ‘tradisi’ dan kelompok marginal lain. 

Mas Bisri melalui Desantara, memfasilitasi penulis dan lebih dari 20 sahabat dari berbagai kota di Jawa Timur aktifitas belajar yang cukup melelahkan. Aktifitas belajar ini bertajuk Sekolah Cultural Studies, digelar selama lebih 10 hari di pertengahan tahun 2005 di sebuah losmen kecil di Ponorogo. Sahabat muda dari Malang, Jember, Kediri, Blitar, Tulungagung dan Ponorogo berkesempatan mengenal pendekatan Cultural Studies melalu forum tersebut. Puluhan anak muda tersebut mendapatkan asupan pengetahuan, praktik kepenulisan melalui aktifitas kunjungan dan persahabatan dengan para pelaku budaya dari berbagai sudut Ponorogo.

Para alumni sekolah tersebut, bergerak diberbagai kota dengan berbagai kerja kebudayaan. Di Ponorogo mengaktifkan sejumlah sahabat mengaktifkan kembali komunitas kajian, IRCaS Ponorogo namanya. Kerja kebudayaan dengan berbagai format, mulai dari mengaktifasi dialog interaktif di sebuah radio swasta, berbagai kegiatan rembug, beberapa kali kolaborasi pementasan di dalam kota Ponorogo maupun dikota lain seperti Banyuwangi dan Bali. Berbagai aktivitas telah mengantarkan penulis dan beberapa kawan untuk memnagun persahabatan yang intens dengan tokoh-tokoh agama, seniman tradisi, para aktivis dan banyak sedulur lainnya. Persahabatan ini kemudian melahirkan beberapa tulisan yang telah penulis dokumentasikan dalam sebentuk buku yang diterbitkan Akademia Pustaka.

Di kota kota lain, alumni sekolah Cultural Studies ini juga terus berbagai kerja gerakan. Di Malang, Jember, Kediri mereka bergerak, bersahabat dengan aktor kebudayaan rakyat dan menulis. Inspirasi mas Bisri Effendi, telah melecut banyak anak muda untuk ‘bersahabat’ komunitas kebudayaan yang terpinggir dengan seluruh dinamika kehidupannya, membersamainya bergerak, dan menuliskan dinamika itu secara naratif. Penulis tidak berani menyebut aktifitas tersebut sebagai ‘etnografi’ yang sempurna. Sebagai pemula kami mendapatkan banyak pengalaman dari proses persahabatan, membersamai dan sekaligus menuliskan suara komunitas kebudayaan marginal. Sebuah pengalaman yang tidak semata-mata bersifat akademis, atau melulu sebuah ‘corak’ aktifisme yang miskin refleksi. Aktifitas ini memberikan pengalaman amat berharga bagi penulis, baik dalam aktifitas sosial, maupun memberikan modal dasar untuk menuntaskan studi magister hingga doktoral.  Dari Mas Bisri penulis mengenal praktik jurnalisme kebudayaan. Sebuah  aktifitas yang memadukan berbagai tekhnik penelitian, kerja gerakan, kerja jejaring dan sekaligus persahabatan ‘tulus’ dengan berbagai aktor kebudayaan. Jurnalisme kebudayaan, merekam dan memotret praktik kebudayaan, sekaligus menyelami dinamika hidup para aktor kebudayan.

Dari mas Bisri pula, penulis belajar kesederhanaan. Peneliti, penulis dan para aktifis tak boleh merasa lebih hebat dari sahabat-sahabat pelaku kebudayaan, seniman tradisi dan kaum terpinggir lainnya. Kesederhanaan itu nyata adanya. Hingga sebutan ‘advokasi’ adalah hal yang tabu digunakan dalam kerja kebudayaan yang dilakukan bersama antara para penulis, aktifis dengan para pelaku budaya. Istilah advokasi  yang selama ini ‘keren’ dikalangan aktivis NGO maupun insan akademik, untuk menyebut aktifitas pendampingan komunitas terpinggir. Mas Bisri menggaris bawahi, bahwa kami hanya sedang membangun ‘persahabatan yang tulus’ dengan berbagai komunitas. Kalimat ini terus saya ingat dalam sebuah kesempatan dalam forum terbatas di kawasan Tengger, pada sekitaran tahun 2006 atau 2007.  

Dan akhirnya penulis, hanya dapat mengucapkan terimakasih terkhusus untuk Mas Bisri Effendy atas segala kesempatan untuk kami untuk pengalaman dan pembelajaran hidup yang penting. Sugeng tindak mas, semoga khusnul khatimah, kebaikan dan ilmu panjenengan akan terus mengalir...

Ponorogo, 19 Agustus 2020

* Murdianto An Nawie, Dosen Tetap Program Pascasarjana INSURI Ponorogo, aktif dalam jejaring kerja kebudayaan pada tahun 2004-2010