Miniatur Peradaban Arab Klasik untuk Kehidupan Masa Kini

26 Juni 2019 13:20
Miniatur Peradaban Arab Klasik untuk Kehidupan Masa Kini
Oleh Wahyu Hanafi*

Masa tiada diutusnya Rasul (Ashru AL-Fatrah) semenjak tiadanya Nabi ISA AS di tahun 32 M sampai lahirnya Nabi Muhammad SAW 570 M sering disebut dengan masa Jahiliyah. Dimana dimensionalitas Islam sebagai agama samawi menduduki tingkat yang kurang dari nilai sempurna. Manusia hidup dengan peradaban primitif. Bukan berarti jauh dari intelektual, tapi dari moral. Tidak adanya utusan Tuhan di masa itu tercatat sebagai jejak negatif kehidupan manusia hingga saat ini.

Dalam literatur-literatur Tarikh Islam, masa Jahiliyah merupakan babak purifikasi misi humanis. Kita tengok ke belakang. Dasar hidup yang jauh dari wahyu Tuhan. Agama-agama hadir hanya untuk meraih kekuasaan dan rekonsiliasi politik kelas bangsawan. Hukum berlaku untuk kelas bawah. Diskreditasi kehidupan adalah makanan yang harus ditelan kaum bawah terlebih wanita. Agama tidak lagi memimpin. Hedonisme tanpa batas adalah hal yang tidak tabu. Eksploitasi manusia, kekejaman, dan patologi sosial.

Masa Jahiliyah sekitar 150-200 pra-Islam sangat kental dengan keberlangsungan hidup yang mengandalkan “id”, bahasa Freud (1939) merupakan tren insting yang tidak terkoordinasi. Hidup adalah bayang-bayang yang harus diterima dengan konsekuensi apapun. Etika, norma, dan adat istiadat dibatasi dengan stratifikasi dan deferensisasi sosial. Pada saatnya, siapa saja yang terlahir dari kabilah bangsawan akan dihargai sampai keturunannya terlebih saudagar yang kaya raya.

Di masa itu, berdagang merupakan mata pencaharian pokok untuk menopang keberlangsungan hidup. Sebagaimana dijelaskan dalam Tarikh Al-Adab Al-‘Araby, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki arogansi dalam segala hal terutama stratifikasi sosial. Kaum intelektual bebas mengekspresikan ide dan gagasan untuk kebutuhan materi. Di bilik-bilik kehidupan dengan gaung kesengsaraan inilah terdapat nilai-nilai yang sering dilupakan manusia, yakni lahirnya para tokoh intelektual dan sastrawan Arab Jahily.

Satu sisi positif dari masa Jahiliyah adalah kaum bangsawan melahirkan anak-anaknya dengan intelektual yang baik. Terbukti munculnya beberapa sastrawan Arab Jahily seperti Imru Al-Qays, Zuhair bin Abi Sulma, An-Nabigha Az-Zibyani, dan beberapa sastrawan Arab Jahily yang masyhur dengan puisi Muallaqat. Apa relasinya? Kehidupan masa Jahiliyah tidak bisa menafikan dengan pendindasan kaum kelas bawah. Kaum bangsawan diberi kebebasan untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Para sastrawan Arab Jahily di masa itu memang bersungguh-sungguh untuk belajar dengan berguru kepada raja, tokoh intelektual dan bangsawan yang memiliki kapasitas keilmuan baik. Meski tidak beragama, keseriusan belajar para sastrawan Arab Jahily perlu dicontoh. Selain berimajinasi tentang kehidupan untuk ditorehkan dengan karya sastra, mereka juga gemar untuk menyelenggarakan sayembara sastra di beberapa lokasi Jazirah Arab. Apresiasi yang diberikan kepada penyair yang baik pun tak segan-segan. Karya yang baik akan disaling ulang dan digantungkan di dinding Kabah agar bisa diakses oleh masyarakat luas.

Sisi positif yang lain adalah bahwa para kaum intektual semasa itu selalu datang kepada raja untuk minta petunjuk tetkait ilmu pengetahuan meski sebagian dari mereka ahli dalam bidang perbintangan (nujum), dan mengadu nasib dengan azlam. Ketaatan kepada raja bukan karena ingin dicintai raja, tetapi agar raja selalu menasehati perihal kehidupannya. Misal Raja Harrah yang disegani rakyatnya saat itu. Ia selalu menasehati rakyatnya untuk giat berdagang, rakyat harus makan, dan menjaga pasar-pasar yang ramai dikunjungi agar tetap hidup untuk jalur perdagangan.

Tradisi tulis-menulis di masa itu memang belum ada. Beberapa kaum intelektual dan sastrawan harus mengandalkan kemampuan hafalan. Lisan sebagai indra yang paling utama. Di saat para penyair memiliki gambaran ide dari hasil kontemplasi dan imajinasinya, seketika mereka harus mampu mengucapkannya dengan lisan kemudian mencoret-coret gagasan di tanah atau daun kering dengan tinta dan tumbuh-tumbuhan. Meski bahasa Arab sudah digunakan pada saat itu, tetapi bahasa Arab belum memiliki kaidah sintaksis yang teratur. Tidak diherankan jika karya-karya intelektual dan sastrawan Arab Jahily memiliki tata bahasa Arab yang kurang teratur.

Lantas apa hikmah dari peristiwa tersebut? Kita tidak boleh melihat masa Jahiliyah dengan frame negatif semata. Adakalanya kita harus melangkahkan kaki di jalan alternatif untuk menjemput kebaikan. Kita bisa hilangkan arogansi norma negatif dengan mengambil sisi positif. Bukankah Islam mengajarkan demikian “lihatlah apa yang diucapkan dan jangan  melihat siapa yang mengucapkan”.  Agama memerintahkan hal ini agar manusia senantiasa mengambil hikmah di seluk-beluk kejelekan. Beberapa hikmah yang dapat diambil dari peristiwa-peristiwa di atas adalah;

Pertama, kita harus senantiasa giat bekerja seperti layaknya masyarakat Arab Jahiliyah yang giat berdagang di pasar Ukaz untuk menjaga keberlangsungan hidup dan menghindari meminta minta. Kedua, tanamkanlah sikap untuk memberi apresiasi kepada orang lain atas usaha yang telah dilakukannya seperti layaknya dewan Juri sastrawan Arab Jahily yang memberi apresiasi Muallaqat terhadap karya sastra terbaik pagi para penyair. Ketiga, kita harus taat kepada guru, orang tua, dan pemimpin kita sebagaimana mereka menaati raja-raja. Keempat, kita harus belajar dengan giat dan tidak henti-heni untuk selalu mengembangkan kapasitas keilmuan sebagaimana mereka yang selalu bersusah payah untuk menghafal syair-syair dan mencoret-coret di tanah untuk sekedar belajar. Dengan demikian, semoga kita bisa berusaha menuju menjadi insan kamil dan bermanfaat untuk pribadi dan sesama.***

*Wahyu Hanafi, adalah Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab INSURI Ponorogo, Pegiat linguistik dan sastra Arab. Saat ini mengemban amanah sebagai ketua Redaksi Jurnal Scaffolding Fakultas Tarbiyah INSURI dan aktif menjadi pembicara di beberapa konferensi linguistik dan sastra Arab di tingkat nasional dan internasional.