Mengingat Kritisisme ala Ludruk Jawa Timuran

19 Juli 2019 10:34
Mengingat Kritisisme ala Ludruk Jawa Timuran
Oleh Murdianto An Nawie*

Ludruk pernah menjadi ekspresi kesenian paling digemari Masyarakat Jawa Timur setidaknya sampai awal 1990 an. Penulis masih mengingat tahun 1980 an adalah tahun-tahun dimana ludruk mendapatkan tempat di hati masyarakat, bahkan hingga di daerah Matraman, Jawa Timur barat daya yang merentang hingga daerah pelosok seperti Trenggalek dan Ponorogo.

Ludruk adalah teater rakyat yang sarat kritik sosial. Ludruk dan  tema-tema kritik terhadap berbagai ketimpangan kondisi sosial seperti gula dengan rasa manisnya, tak bisa dipisahkan. Inilah yang membuat Ludruk pernah menjadi bagian penting di hati wong cilik. Ditengah gempuran zaman, akankah kesenian yang mengusung kritisisme masih akan terus bertahan. Apakah semua kesenian akan bergeser fungsinya menjadi semata-mata entitas hiburan?

Utomo dan Budhi (2007) masih mencatat pada suatu pementasan Ludruk 14 Aril 2007, di Gedangan Sidoarjo, seniman ludruk sedang mementaskan adegan kritis yang menyoal tragedi Lumpur Lapindo.  …. Aku nek delok berita nok TV, Bencana alam akeh wong sing podho wedi.  Sak marine Aceh kenek tsunami, Terus beruntun gak mari-mari. Akeh kebanjiran ugo gempa bumi, Tanah longsor yo topan badai.  Lumpur lapindo tambah gegirisi, Gak gelem mampet sampek saiki. Tekone gak kondo-kondo, Lumpur panas sing gawe rekoso. Ludes ambles pirang-pirang deso, Reno Kenongo, Siring, Jatirejo…”

Kisah Kritisisme yang ditampilkan oleh seniman Ludruk, masih tetap terekam kuat pada ingatan penulis pada lakon Sarip Tambak Oso dan Brandal Loka Jaya. Dua lakon klasik yang banyak dipentaskan saat Ludruk masih sangat di minati. Lakon Sarip Tambak Oso mengusung tema besar perjuangan cinta tanah air dan kasih tanpa batas seorang Ibu terhadap seorang pejuang yang bernama Sarip asal Tambak Oso Surabaya.

Sementara pada lakon Brandal Loka Jaya yang mengisahkan perjalanan Raden Sahid muda, yang pada masa tuanya menjadi salah satu penyebar Islam paling berpengaruh di Jawa, yakni Sunan Kalijaga. Kritik atas ketimpangan sosial di tampilkan dengan kuat pada kisah ini.  

Kritisisme yang ditampilkan oleh para seniman ludruk memiliki ciri khasnya sendiri. Cobalah kita lihat beberapa dokumentasi visual pementasan ludruk yang masih tersisa di Youtube. Kritiknya seniman ludruk itu sekilas tampak kasar, namun anehnya orang yang dikritik itu tak harus merasa tersakiti hatinya. Seniman ludruk harus mampu memainkan konsep kritik secara tajam namun tetap estetis dirasakan.

Bagian lain yang diingat para pecinta Ludruk adalah soal kentalnya nuansa humor di sepanjang pementasan Ludruk. Humor banyak di kombinasikan, serta digunakan untuk untuk membungkus kritik agar tetap estetis dan tidak menyakitkan. Para penikmat Ludruk, yang mayoritas adalah wong cilik, dimana lekat pada dirinya beban hidup yang teramat berat, akan mendapatkan kompensasai saat menonton Ludruk. Mereka menyalurkan kritik sosial dan menerima humor sebagai hiburan. Kritik tanpa humor akan terasa tak enak didengar, bahkan akan menyinggung subyek yang mendapatkan kritik. Tentu ini terasa tidak estetis. 

Perubahan zaman telah bergeser. Kini Ludruk makin jarang dipentaskan terutama di daerah-daerah pinggiran. Ludruk RRI yang pernah menemani malam-malam para pendengarnya juga telah perlahan kehilangan pendengar muda. Namun tampaknya ludruk dengan watak asli yang kritis tanpa harus terasa nyinyir masih mendapatkan tempat pada pencintanya.

Pelajaran penting yang dapat terus dielaborasi kaum muda dari para seniman Ludruk dan kesenian Ludruk adalah kreativitas dan  kecerdasan intelektual dalam membungkus kritik sosial, serta kemampuan bertahan hidup melalui kegiatan kewirausahaan para seniman untuk terus merawat Ludruk di tengah situasi sulit menjadi pelajaran berharga. Nama Kartolo, Supali dan banyak seniman Ludruk di masa lalu akan dikenang sejarah sebagai kisah kreativitas yang dimasa depan perlu di elaborasi, dan jika perlu para seniman muda perlu menggarap kembali Ludruk dengan format baru yang lebih menyentuh generasi Millenial, sekaligus menyerap potensi perkembangan tekhnologi sebagai prasyarat bertahan di era disruptif  dan penuh perubahan besar seperti saat ini.   

*) Murdianto An Nawie, Dosen PPS INSURI Ponorogo, salah satu anggota Dewan Kesenian Ponorogo 2015-2020