Menafsir Ulang Historisitas Lirik Mars Syubbanul Wathan

06 Juli 2019 13:13
Menafsir Ulang Historisitas Lirik Mars Syubbanul Wathan
Oleh Muhammad Misbahuddin

Sejarah itu tidak selalu manis. Sekelam apapun sejarah itu, kalau kita mempelajarinya dengan kejujuran, maka dapat membantu kita dalam memahami kenyataan hidup. Adagium itu setidaknya dapat dipakai untuk melihat historisitas syair Yaa lal Wathan. Mengapa demikian? Hal ini karena apa yang kita pelajari dalam sejarah Islam lebih banyak kepada sejarah dogmatis sehingga kita kerapkali abai dalam membangun kritisisme dalam menulis sejarah. Akibatnya, kita hanya melihat sesuatu yang baik dalam sebuah peristiwa sejarah tanpa menengok kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Dalam beberapa tahun belakangan ini masyarakat Indonesia terutama dikalangan kaum santri sedang gandrung dan populer sebuah syair yang mengusung rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Syair tersebut menjadi mars wajib yang harus didendangkan sebelum memulai di mulainya sebuah acara. Seakan-akan tidak berjiwa patriot bila tidak mendendangkan syair tersebut. Syair itu merupakan syair lama yang sengaja digubah dan didendangkan lagi ditengah berkembangnya Islam politik yang dapat menjadi perpecahan atas persatuan bangsa. Syair itu berjudul Yaa Lal Wathan. Diceritakan dalam berita online www.nu.or.id  yang diposkan pada tanggal 09 September 2016 bahwa syair itu dibuat oleh seorang kyai yang mempunyai pengaruh besar di NU, KH. Wahab Chasbullah, pada tahun 1916. Syair Yaa Lal Wathan tersebut berkaitan impian beliau untuk melepaskan bangsanya atas nina bobok penjajahan.

Sebagai bagian dari seni sastra, syair kerap dibuat untuk menggambarkan situasi keadaan tertentu. Penggunaan syair di Indonesia sebagai media historis telah lama dikenal mulai peristiwa perang, bencana alam hingga persoalan etika kerap disampaikan melalui syair. Melalui syair, pencipta syair menginginkan larutnya para pendengar akan indahnya nada. Tidak terkecuali pada syair Yaa lal Wathan. Nada yang menggebu dan menghentak membuat semangat perjuangan tercipta ketika menyanyikan syair Yaa Lal Wathan. Namun terdapat bait yang agak aneh dalam syair lagu tersebut. Bait yang menurut penulis aneh tersebut terletak pada bait pertama yang kemudian menjadi judul syair tersebut. Bait itu sangat penting untuk ditelaah lebih dalam karena melalui bait pertama tersebut dapat diketahui sikap politik sang pengarang dan beberapa peristiwa yang muncul pada era setelahnya.

Syair yang terkenal itu sebagaimana berikut;

 

 

 

 

 

Pada bait yang pertama muncul kata “wathan, kata ini kerapkali diartikan dengan kata bangsa. Bahkan pada gubahan syair yang populer saat ini-gubahan itu kalau tidak salah ingat adalah gubahannya KH Maimun Zubair-, kata “wathan tersebut disandingkan dengan kata al-biladi Indonesia. Meminjam istilahnya Anderson, bangsa adalah masyarakat rekaan yang dibentuk oleh print capitalisme yang bentuk riilnya hanya terdapat dalam novel dan koran. Bangsa juga merupakan bagian dari masyarakat industri dengan tingkat integrasi ekonomi yang tinggi, dan bangsa juga bukan lahir akibat penaklukan tetapi merupakan penghormatan atas kemajemukan yang ada.  

Sedangkan kalau kita perhatikan secara seksama, print capitalisme yang terbentuk saat itu bukanlah Indonesia tetapi pemerintah Hindia Belanda. Oleh karena itu bangsa yang dibayangkan oleh KH. Wahab Chasbullah dapat dipastikan adalah Hindia Belanda. Dengan demikian, pada dasarnya KH. Wahab tidak mempermasalahkan siapa yang menjadi pemimpin negara asalkan tidak terjadi pemaksaan atas masyarakatnya. Di sisi lain, masyarakat Hindia Belanda harus memiliki jiwa merdeka sehingga tidak membebek atas setiap kondisi yang berlaku di kehidupan masyarakat.  Paradigma ini dalam perkembangannya semakin mengental dan terakumulasi dalam kebijakan organisasi NU atas pemerintah Hindia Belanda dengan mengatakan bahwa negara Hindia Belanda adalah bagian dari Dar al-Islam, sehingga setiap kebijakannya dapat diikuti oleh mayoritas umat Islam yang mendiami negara tersebut. Kebijakan itu lahir dalam Muktamar NU di Banjarmasin pada tahun 1935.***

*) Muhammad Misbahuddin, Dosen Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo dan Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Ponorogo serta Pemulung Budaya Masa Lalu.