Media Sosial dan Promosi Kreatif Budaya Lokal Reyog Ponorogo

14 Agustus 2019 08:19
Media Sosial dan Promosi Kreatif Budaya Lokal Reyog Ponorogo
Oleh Tamrin Fathoni*

Dewasa ini kesadaran untuk mempelajari budaya dan memperkenalkan kepada dunia luar semakin menipis. Kebudayaan dianggap sebagai sesuatu yang kurang menarik karena memiliki sifat tradisional, konvensional, dan kuno. Padahal, di dalam kebudayaan di Indonesia khususnya terdapat harta karun melimpah. Ribuan kebudayaan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke merupakan identitas sebuah bangsa yang harus diperkenalkan secara luas.

Di Ponorogo sendiri memiliki satu simbol budaya yang sangat menarik, yaitu Reyog. Sebuah budaya lokal yang berbentuk seni budaya. Reyog Ponorogo yang konon menjadi simbol dari sejarah kota Ponorogo. Reyog Ponorogo memiliki komposisi diantaranya Singo Barong yang merupakan topeng berbentuk kepala singa yang di kenal sebagai raja hutan. Bulu-bulu merak ditancapkan di atasnya menjulang tinggi seperti kipas raksasa. Dan Jathilan merupakan kelompok penari Gemblak yang menunggangi kuda-kudaan.

Di era industri 4.0 sekarang ini, eksistensi budaya lokal semakin terkikis karena arus globalisasi dan semakin konsumtifnya masyarakat pada budaya-budaya asing yang tersuguhkan secara mudah melalui genggaman android. Bimber (2015) mengatakan bahwa teknologi media sosial ini telah merubah lanskap manusia untuk melakukan gerakan sosial, manusia juga dapat berkomunikasi dan membangun kolektivitas yang efektif dan efisien hanya melalui jaringan internet. Media sosial yang berbasis internet mampu menjalankan seluruh fungsinya melalui partisipasi pengguna dengan menciptakan isi dan dapat diketahui oleh pengguna lain yang terintegrasi didalamnya. Bahkan media sosial mampu saling bertukar dan memberi informasi antara satu dengan yang lainnya.

Sebagaimana tercantum pada Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Media sosial saat ini tidak dapat terpisahkan dengan kehidupan sehari hari. Media sosial memiliki manfaat diantaranya; untuk bersosialisasi, sebagai media penghibur, penyaluran hobi, memberikan berbagai macam informasi ter-update, meminta bantuan, dan menambah pengetahuan. Menjadi peluang besar bagi pemerhati media sosial karena manusia kian haus informasi selalu mencari informasi di berbagai belahan dunia untuk menambah khazanah keilmuan dirinya atau sekedar mengetahui kondisi dunia saat ini.

Promosi kebudayaan Reyog Ponorogo harus memiliki alternatif terobosan-terobosan baru. Media jejaring sosial sebagai sarana paling efektif, efisien, dan  inovatif untuk mempromosikan budaya-budaya lokal nusantara. Kreatifitas kemasan promosi, komposisi, editing dan pendukung lain sangat perlu dilakukan agar mampu menarik para pengguna media sosial. Seni budaya Reyog yang hanya konvensional dan diketahui sedikit orang sekitar akan menjadi terekspos keseluruh jejaring maya. Pengguna internet dunia dengan mudah dapat mengakses budaya reyog Ponorogo hanya dengan genggaman tangan, yaitu penggunaan jaringan internet.

Generasi muda yang sebagian besar sudah melek teknologi sudah seharusnya untuk mencanangkan diri dan mengabdikan untuk mempublikasikan budaya lokal daerahnya. Pengguna media sosial yang didominasi oleh generasi muda akan menjadi kekuatan besar untuk mempublikasikan secara masif terkait budaya lokal daerahnya sekaligus meningkatkan promosi kebudayaan nusantara. Promosi budaya juga perlu dibumbui dengan gaya kekinian agar mudah dicerna dan menjadikan kecintaan generasi muda zaman sekarang. Tidak menutup kemungkinan, paguyupan reyog lokal di desa pinggiran akan diundang ke manca negara ketika sudah mendapat kepercayaan dari para pengguna dunia maya.

*) Tamrin Fathoni, Dosen Fakultas Tarbiyah INSURI Ponorogo, Pelaku Media Sosial Era Industri 4.0, Entrepreneur, dan Youtuber.