Makno Gandul Bukan Simbol Ke-utun-an.
Makno Gandul, istilah yang sering dijumpai di pesantren tradisional. Saya teringat ketika tahun 2001 saat usia berkisar 11 tahun membaca tulisan tersebut pada kaos oblong yang dipakai salah satu alumni PP. Al-Islam Joresan Ponorogo. Ketika membaca tulisan itu, saya tidak paham terutama arti kata “utun” bahasa Jawa Panaragan. Maklum, saya dari Madiun dan belum pernah mendengar istilah itu di tempat saya tinggal. Setelah saya menjalin kontak komunikasi dengan beberapa teman yang asli Ponorogo, saya baru ngeh. Makna “utun” dalam bahasa Indonesia sama dengan “ketertinggalan peradaban”. Kalau kita sering mendengar ucapan “bocah utun” atau “bocah ndeso” itu berarti kita disamakan dengan anak yang ketinggalan peradaban, tidak mengerti perkembangan teknologi, gampang heran dan kaget saat mengetahui sesuatu yang baru. Lantas, apa hubungannya antara Makno Gandul dengan Simbol “utun”?
Makno Gandul adalah artikulasi bahasa Arab-daerah (Arab Pegon) yang digunakan masyarakat pesantren (Kyai, Ustadz, dan Santri) dalam belajar kitab kuning. Makno Gandul sudah menjadi folklore yang mengakar dalam tradisi pesantren. Penggunaannya menyesuaikan dengan letak geografis. Pesantren di tanah Jawa dan Surau di tanah Sumatra yang bernotabe salafiyyah/ tradisional sudah barangtentu menggunakan makno gandul saat mengaji kitab kuning. Pesantren di Jawa Timur dan Tengah menggunakan makno gandul bahasa Jawa. Pesantren di Jawa Barat relatif menggunakan makno gandul berbahasa Sunda. Kemudian surau di daerah Sumatra menggunakan makno gandul berbahasa Melayu. Penggunaan makno gandul di berbagai pesantren tradisional sebagai entitas metodologi pembelajaran bahasa Arab yang mencakup sorogan, bandongan, dan wektonan. Kyai dan Ustadz membacakan teks Arab dan santri memberikan arti di setiap morfologi kata. Istilah lain adalah (qawaid wa tarjamah).
Di tanah Jawa, bahasa Jawa adalah bahasa pertama/ akuisisi (B1). Penutur (Speech Community) bahasa Jawa kebanyakan dari masyarakat Jawa pedesaan. Bahasa Sunda digunakan oleh masyarakat Sukabumi, Sumedang, Tasikmalaya dan beberapa kabupaten pesisir Provinsi Jawa Barat. Mereka yang tinggal di Bandung dan Bogor lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia untuk menjalin kontak sosial. Begitu juga bahasa Melayu sebagai bahasa daerah masyarakat sumatra terutama bagian utara. Bahasa ini dituturkan oleh mereka yang tinggal di pedesaan, pinggiran, dan pesisir. Masyarakat perkotaan tanah Jawa dan Sumatra cenderung menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi. Sebagai masyarakat urban, mereka cenderung memilih bahasa Indonesia karena sikap heterogen. Terlebih bahasa Indonesia memiliki register yang diatur Pemerintah.
Secara sosiologis, peradaban masyarakat kota memiliki sikap pragmatis, hedonis, dan puritan. Fenomena sosial yang bias dari kaca mata masyarakat kota bisa menjadi hal yang naif. Mereka yang terbiasa berbahasa Indonesia akan merasa ambigu disaat menjalin kontak sosial dengan komunikan yang berbahasa daerah/ bahasa Jawa. Mereka yang berbahasa Jawa diasumsikan masyarakat kelas bawah, masyarakat “ndeso” dan terbelakang. Begitu juga disaat mereka mendengar makno gandul berbahasa daerah untuk keberlangsungan belajar. Bisa-bisa dibilang aneh. Namun, stereotip yang berkembang di masyarakat perkotaan demikian perlu dipatahkan. Studi Etnolinguistik (2013) mencatat, bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang memiliki prestise tinggi dibanding bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang lain karena populasi penutur mencapai 40% dari penduduk tanah air. Prosentasi ini lebih tinggi dibanding penutur bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama (B1) yang hanya mencapai 20%. Kendati demikian bisa menghapus stereotip masyarakat perkotaan bahwa mereka yang menggunakan bahasa Jawa dan makno gandul adalah mereka yang ketertinggalan peradaban.
Pesantren tradisional sebagai media dakwah Islam nusantara yang dirintis oleh ulama nusantara terbukti berhasil membawa misi Islam tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya lokal. Makno Gandul dengan khas bahasa daerah adalah salah satu bentuk kearifan lokal dan metode untuk memudahkan belajar kitab kuning bagi santri pemula. Rata-rata santri pemula masih kurang menguasai tata bahasa Arab. Dengan adanya makno gandul, santri lebih mudah menerima pesan profetik di balik kitab kuning dalam bidang fiqh, tasawuf dan kalam.
Bias makno gandul sebagai bahasa daerah yang utun dan udik perlu dipatahkan. Kita lihat, beberapa tokoh besar di nusantara yang lahir dari pesantren seperti Gus Dur, Nurcholish Madjid, Mukti Ali, Quraish Shihab, Bisri Mustofa, Sahal Mahfudz, dan beberapa tokoh yang sempat menduduki parlemen. Belum lagi yang bergelut di bidang wirausaha. Kontestasi tokoh yang terlahir dari rahim pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan metode belajar yang klasik dan kurang humanis terkadang membentuk karakter yang disiplin, dan mandiri. Sepintas diasumsikan irasional. Memang, pesantren memiliki kekuatan batin dan spiritual yang kuat. Segala hal di pesantren yang dilihat klasik terkadang mampu meraih hasil yang maksimal. Itu semua tak lain karena semangat yang tinggi, doa kyai dan anugerah dari Allah Swt.
Makno gandul sebagai proyeksi bahasa kitab kuning kini mampu mengantarkan para alumni pesantren ke medan juang yang lebih mapan. Alumni pesantren bisa menjadi presiden, pejabat pemerintah dan birokrat. Alumni pesantren bisa bekerja di kedutaan untuk menjalin hubungan internasional. Alumni pesantren bisa menjadi figur dan teladan di tengah masyarakat. Ilmu agama yang dipelajari dengan tempo yang tidak singkat, membuat mereka lebih lihay di bidang keagamaan. Santri di pesantren juga dididik agar memiliki karakter yang baik. Menghargai orang lain, tawaddhu’, jujur, dan disiplin. Satu titik kelemahan dari mereka saat hidup di luar pesantren, yakni penyesuaian diri terhadap lingkuangan baru yang serba cepat, karena segala hal di pesantren tidak bisa diproduksi secara instan layaknya di luar pesantren.
Beginilah makna yang hakiki. Para santri yang dulu belajar dengan makno gandul di pesantren ternyata lebih memiliki khazanah ilmu yang luas, karakter dan kemampuan leaderships yang lebih menonjol. Ini bukan berarti mendiskreditkan mereka yang belum pernah menjadi santri. Alangkah baiknya untuk saling mengisi. Mereka yang alumni pesantren bisa menjadi uswah bagi mereka yang belum pernah nyantri. Sebaliknya, mereka yang belum pernah nyantri bisa menularkan energi positif terhadap perkembangan dunia di luar pesantren yang serba cepat. Dengan demikian, jargon “Makno Gandul Bukan Simbol Keutunan” bisa menjadi bendera para alumni pesantren untuk bersosialisasi bahwa pendidikan pesantren adalah pendidikan pencetak generasi bangsa yang mahir di bidang ilmu agama dan berkarakter, moderat, leaderships, mandiri, sederhana, serta menjunjung nilai-nilai kebangsaan.***
*) Wahyu Hanafi, alumni PP. Darul Huda Mayak Ponorogo dan PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini mengajar di Fakultas Tarbiyah INSURI Ponorogo.