Lirik Mars Syubbanul Wathan dan Balada Cinta Para Penafsirnya

08 Juli 2019 11:27
Lirik Mars Syubbanul Wathan dan Balada Cinta Para Penafsirnya
Oleh Murdianto An Nawie*
Tulisan ini Moh Misbahuddin berjudul Menafsir Ulang Historisitas Syair Mars Syubbanul Wathan yang di muat insuriponorogo.ac.id (06/07/2019) memberikan perspektif atas frasa indonesia biladi (Indonesia Negeriku) dalam Mars Syubbanul Wathan dengan sikap politik penciptanya. Sebagaimana dicatat dalam tulisan tersebut bahwa pencipta lirik dari Mars Syubbanul Wathan ditulis oleh KH Wahab Chasbullah.
Tulisan tersebut menyandingkan frasa Indonesia Biladi dan sikap politik KH Wahab Chasbullah terhadap Pemerintah Hindia Belanda saat syair tersebut di tulis (tahun 1934). Misbahuddin menulis "Oleh karena itu bangsa yang dibayangkan oleh KH. Wahab Chasbullah dapat dipastikan adalah Hindia Belanda. Dengan demikian, pada dasarnya KH. Wahab tidak mempermasalahkan siapa yang menjadi pemimpin negara asalkan tidak terjadi pemaksaan atas masyarakatnya. Paradigma ini dalam perkembangannya semakin mengental dan terakumulasi dalam kebijakan organisasi NU atas pemerintah Hindia Belanda dengan mengatakan bahwa negara Hindia Belanda adalah bagian dari Dar al-Islam, sehingga setiap kebijakannya dapat diikuti oleh mayoritas umat Islam yang mendiami negara tersebut. Kebijakan itu lahir dalam Muktamar NU di Banjarmasin pada tahun 1935 (1936-pen)"". 
 
***
Penulis berupaya memberi catatan atas argumentasi Misbahuddin yang mengkaitkan lirik dalam mars Syubbanul Wathan dengan sikap politik penciptanya dan bahkan sikap politik jamiyyah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Banjarmasin 1936 (bukan 1935-pen).
Mengkaitkan lirik suatu karya (seni) dengan sikap politik penulisnya, barangkali bisa dimaklumi, meski harus ditempatkan secara berhati-hati. Apalagi mengkaitkannya dengan produk hukum (dan sikap politik) sebagaimana yang dihasilkan forum tertinggi jamiyyah Nahdlatul Ulama, tentu merupakan lompatan logika yang perlu diurai lebih mendalam.
Mars adalah karya budaya yang melibatkan daya cipta, rasa dan karsa penulisnya. Lirik lagu, tembang atau syiir yang ditulis merupakan produk paling kasat mata dari seperangkat gegasan, keyakinan, nilai-nilai bahkan kondisi perasaan (state of feeling) dari penciptanya. Ekspresi ini sangat unik dan tak dapat diduga, dan hanya benar-benar dapat diungkap penciptanya. Namun, saat Mars Syubbanul Wathan menjadi salah satu penanda identitas (baru) bagi kaum nahdliyyin, tentu mereka yang menyanyikan kembali, atau para pengamat dapat membuat tafsir sendiri atas lirik yang di tuliskan. Mars Syubbanul Wathan kini adalah open corpus yang dapat ditafsirkan oleh para pecinta (dan pengamatnya). 
Penting ditegaskan penulis, suasana kebatinan saat diciptakannya Mars Syubbanul Wathan menemukan konteksnya dalam situasi mutakhir bangsa ini. Terutama bagi ‘kader’ nahdliyyin (yang juga) adalah ‘anak ideologis’ dari KH Wahab Chasbullah dan pembawa sanad Mars Syubbanul Wathan KH Maemun Zubair. Rasa cinta tanah air yang sedang digerus oleh gempuran ‘gagasan, keyakinan, ideologi, dan kekuatan ‘modal’ bahkan invisible hand yang masuk akibat deru globalisasi yang menusuk dan berkelindan melalui instrumen teknologi informasi. Tentu ‘keresahan’ para pecinta tanah air ini menemukan terapi yang manjur melalui syiir dalam Mars Syubbanul Wathan.
Cinta tanah air adalah kebutuhan bertahan hidup warganya, bukan hanya seperti apa yang dipikirkan Benedict Anderson dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (1986) yang menyatakan bahwa pada awalnya perkembangan pemikiran tentang nasionalisme lahir dan tersebar bersama semakin maraknya kapitalisme perbukuan, yang berkembang pesat di Eropa setelah ditemukannya mesin Cetak pada awal Abad XVII. Rasa cinta tanah air adalah akumulasi dari perlawanan atas ketertindasan sekian lama, yang dirasakan oleh kaum santri sejak kolonialisme mulai menjarah tanah, harta benda, nyawa bahkan ‘roh rakyat’ semenjak hampir tiga setengah abad sebelumnya.
Ben Anderson mendegradasi nasionalisme sebagai hal yang profan. Ben menyatakan nasionalisme bukanlah pikiran dan perasaan yang lahir begitu saja dalam pribadi manusia akan tetapi sebagai sebuah paham. Pada awalnya disebarkan dan diritualkan. Nasionalisme bukanlah suatu yang suci dan semata-mata pikiran manusia. Tentu cara pandang seperti ini tidak akan lahir dari pikiran masyarakat yang dijajah.
Cinta tanah air (dan gerakan nasionalisme) adalah obat trauma panjang yang telah dikobarkan para pemimpin gerakan perlawanan seperti Sultan Agung Hanyokrokusumo, Trunojaya, Untung Surapati, Pangeran Diponegoro dan seluruh pemimpin perlawanan terhadap kolonialisme. KH Wahab Chasbullah adalah penerus gerakan perlawanan yang terus berkobar hingga pertengahan Abad XX termasuk pemilihan kata ’Indonesia’ adalah ijtihad genuin dari ulama Nusantara.
Temuan Ahmad Baso terhadap naskah Aceh yang menyebut Jumhuryiah  al-Indonesia adalah bukti akumulasi rasa cinta tanah air dan deru nasionalisme hasil pengalaman panjang bangsa ini. Penciptaan Mars Syubbanul Wathan kemungkinan besar salah satu ikhtiar penting untuk terus mengobarkan dan mewariskan semangat cinta tanah air kepada generasi sesudahnya. Kaum santri telah membangun imajinasi tentang ‘Indonesia biladi' sebagai cita-cita sekaligus identitas yang membangkitkan suatu gerakan besar mencapai (dan mempertahankan) kemerdekaan. Dimasa kini dapat dibaca sebagai ikhtiar mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sementara hasil Muktamar NU 1936 Banjarmasin adalah ijtihad kebangsaan secara kolektif, bukan hanya sebagai produk hukum tetapi sebagai produk politik yang tentu terkait dengan kondisi politik nasional dan geopolitik dunia saat itu. Para kiai dan muasis Nahdlatul Ulama tentu menggunakan berbagai perspektif baik hukum agama, kondisi politik global dan nasional dan tentu ‘isyarah langit’ secara bersama, utamanya bagi keberlanjutan kehidupan beragama dalam bingkai kehidupan berbangsa. Bukan semata-mata meneguhkan pemerintahan Hindia Belanda yang saat itu sedang berkuasa, namun dalam rangka perlindungan terhadap ekspresi keberagamaan muslim Nusantara.
 
*) Murdianto, Dosen Pascasarjana INSURI Ponorogo dan Tim Litbang ISNU Jawa Timur