Langkah-langkah Membangun Toleransi ala Ki Hajar Dewantara

13 Juli 2019 07:31
Langkah-langkah Membangun Toleransi ala Ki Hajar Dewantara
Oleh Jauhan Budiwan*

Pepatah Indian mengatakan “Perbuatan Lebih Kuat daripada Ucapan”. Hal ini memang benar terutama yang berkaitan dengan cara efektif menumbuhkan sikap toleransi pada anak. Seorang bersikap konsisten, yaitu sejalan antara perbuatan dan ucapan. Perilaku bermoral itu bukan hanya diajarkan tetapi juga ditularkan, karena itu seorang harus menjalankan apa yang dinasehatkan dan menasehatkan apa yang sudah dijalankan (Budiwan, dkk; 2018).

Ki Hajar Dewantara (1964) menjelaskan pentingnya menumbuhkan nilai-nilai toleransi yang oleh beliau namakan dengan “Fatwa untuk Hidup Merdeka”. Salah satu diantara sepuluh fatwa yang terkait erat dengan nilai-nilai toleransi adalah “Salam Bahagia Diri Tak Boleh Menyalahi Damainya Masyarakat”. Dengan kata lain, kemerdekaan diri seorang dibatasi oleh kepentingan dan keselamatan masyarakat. Ahli pendidikan karakter (Thomas Lickona, 2012) menyimpulkan enam cara efektif untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa cara berkeyakinan semua orang harus dihormati tanpa harus membedakan suku, gender, agama, usia, kemampuan, latar belakang ekonomi, penampilan atau budaya mereka. Cara-cara tersebut adalah; 1) Memerangi prasangka buruk; 2) Menerapkan keyakinan pentingnya pendidikan toleransi; 3) Jangan dengarkan komentar bernada diskriminasi; 4) Menerima perbedaan sejak dini; 5) Beri jawaban tegas dan sederhana terhadap pertanyaan tentang perbedaan; 6) Contohkanlah toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Asas-asas sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Mochamad Tauhid (1963) tidak hanya dapat dipakai dalam lapangan pendidikan, tetapi juga dapat dipakai sebagai dasar hidup bermasyarakat. Diantara asas-asas sistem pendidikan yang disampaikan beliau dalam (Warsito, 2012) yang terkait dengan nilai toleransi adalah asas Cultureel Nationalisme dan asas Tricon. Asas “Cultureel Nationalisme” dapat dipakai sebagai dasar kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki corak Bhineka Tunggal Ika dan keluar sebagai titik temu kebudayaan dunia. Fakta inilah yang mengharuskan perlunya mengembangkan nilai-nilai toleransi. Adapun asas “Tricon” adalah pengakuan antara orang-orang di dunia sekitar yang selalu memiliki pertimbangan, persatuan dan persambungan. Kesimpulannya adalah bahwa budaya dan komunitas yang bermacam-macam jika dapat dikelola, disikapi dan dikembangkan dengan baik, maka akan banyak memberi manfaat untuk semua.

*) Jauhan Budiwan, Dekan Fakultas Tarbiyah INSURI, Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta