Belantara Stereotip Perempuan Jawa

09 Desember 2019 10:46
Belantara Stereotip Perempuan Jawa
Oleh Murdianto An Nawie*

Manusia sebagai pribadi maupun kelompok hidup dalam belantara stereotip. Stereotip merujuk pada keyakinan-keyakinan tentang karakteristik seseorang atau sekelompok orang. Bisa berupa ciri kepribadian, perilaku atau nilai yang diyakini secara pribadi. Keyakinan itu kemudian diterima sebagai suatu kebenaran kelompok sosial lain.

Beberapa minggu terakhir ada musim walimatul ursy. Dalam banyak mauidhah hasanah terdengar berulang. Soal stereotip gender. Stereotip gender yang menggambarkan keyakinan kolektif dalam memandang perempuan. Dalam banyak budaya posisi perempuan berbeda daripada laki-laki. Bahkan dianggap lebih rendah. Hal ini terjadi dalam berbagai belahan dunia. Termasuk dalam budaya Jawa. Ada berbagai istilah yang menggambarkan stereotip. Stereotip itu tertanam kuat dalam keyakinan banyak orang. Sehingga dimaklumi dan diterima begitu saja.

Kita ambilkan salah satu contohnya, istilah Jawa: konco wingking. Artinya teman belakang. Istri adalah sebagai teman yang ada di belakang. Dalam mengelola urusan rumah tangga. Mendidik anak adalah tugas perempuan. Begitu pula tugas domestik. Termasuk  memasak, mencuci dan melayani kebutuhan seksual pasangan.  

Pakar stereotip asal Jepang adalah David Matsumoto. Matsumoto menulis bukunya dengan judul Handbook of Culture and Psichology (2003). Matsumoto mengungkap dalam banyak budaya didapati stereotip bahwa perempuan itu “lemah”. Sesuatu yang terkonfirmasi dalam kultur Jawa. Ada istilah lain selain kanca wingking yakni ‘suwarga nunut neraka katut’. Istilah itu juga diperuntukkan bagi perempuan. Terkhusus para istri. Nasib sang Sang suami adalah yang menentukan istri akan dan nasib mereka bahkan sesudah mati sekalipun. Stereotip yang tepat untuk istilah ini adalah sifat ‘tergantung’ perempuan kepada laki-laki.  

Ungkapan yang menstereotip para perempuan yang lain adalah, bahwa seorang perempuan harus ‘tampil mempesona’, ‘pelayan yang baik’ (macak, masak dan manak). Sementara laki-laki adalah panutan. Laki-laki harus tampil bijaksana. Bijaksana dalam pikiran, perkataan dan tindakan. Sementara perempuan harus penurut. Laki-laki lebih rasional dalam mengambil keputusan. Sementara perempuan emosional.

Seorang perempuan haruslah seorang yang lemah lembut. Penurut. Tidak membantah, dan tidak boleh ‘melebihi’ laki-laki. Perempuan terbaik adalah pengelola rumah tangga. Pendukung karir suami. Istri yang penurut dan ibu yang mrantasi. Citra yang dibuat untuk laki-laki adalah ‘serba tahu’. Laki-laki sebagai panutan harus ‘lebih dari’ perempuan. Laki-laki mestilah rasional dan agresif. Peran laki-laki yang ideal adalah sebagai pencari nafkah keluarga. Kewajibannya melindungi, mengayomi. Status idealnya adalah kepala keluarga. Begitulah ungkap sebagian peneliti.

Namun ada stereotip gender dalam kultur Jawa yang berbeda. Setidaknya berbeda dengan temuan David Matsumoto. Perempuan adalah memiliki kekuatan untuk ‘menguasai, menjadi pemimpin’. Permpuan menyimpan kekuatan mistik. Narasi lisan tentang perempuan perkasa, ditemukan dalam banyak temuan. Pemegang kekuasaan legendaris di Jawa adalah perempuan. Perempuan istimewa. Memegang tampuk kekuasaan. Paling dihormati dan berwibawa. Sebutlah nama Ratu Sima, kerajaan Kalingga  yang adil itu. Ada Ratu Kilisuci, Ratu Kalinyamat. Ada  Ratu Tribuwana Tunggadewi, Ken Dedes, Nyi Ageng Serang. Mereka tergambar sebagai raja. Pimpinan suatu rezim monarki. Narasi lisan maupun tulisan menyimpannya. Terekam kuat dalam memori sejarah orang Jawa. Pengaruhnya merentang dari kekuasaan politik sampai kehidupan sosial dan keagamaan.

Belum lagi dari narasi yang dianggap mitos. Dan narasi penguasa laut selatan, Nyi Rara Kidul. Juga narasi Dewi Sri. Jika Nyi Rara Kidul digambarkan sebagai simbol kekuasaan. Ratu dunia mistis. Sementara Dewi Sri adalah simbol kemakmuran.  Personifikasi Nyi Rara Kidul, adalah ratu dunia ‘halus’. Penguasa laut selatan jawa. Ratu dunia kosmologi. Memiliki peran dalam harmoni ‘kosmik’ dalam masyarakat Jawa. Ratu berjenis kelamin perempuan.

Adalagi stereotip yang berkembang di tanah Blambangan. Stereotip yang menyangkut pemilik kekuatan moral luar yang merubah keadaan. Pada masyarakat Jawa Using Banyuwangi, kita mengenal nama Sri Tanjung. Sri Tanjung, ia terbunuh untuk menjaga harga diri.  Mayatnya berbau wangi dan memberi wangi lautan. Ini cikal bakal nama Banyuwangi.

Luar biasa bukan? Perempuan di Jawa, memiliki kekuatan tersembunyi. Dibalik stereotip ‘lembut’ ada ‘keperkasaan. Di balik ‘penuh perasaan’ terdapat sifat kepemimpinan. Dibalik gambaran ‘penurut’ terdapat ‘kekuatan mistik’. Kekuatan ini dapat membalik posisi. Membalik stereotip bahwa perempuan itu lemah dan tak berdaya. Dan itu artinya perempuan dapat mengambil peran lebih besar. Merentangkan sayap bidadari. Dari ranah publik hingga domestik.

*Dosen Tetap Program Pascasarjana INSURI Ponorogo, Pemerhati Psikologi Lintas Budaya