An-Nabigha Meluluhkan Hati Raja

22 Juni 2019 16:28
An-Nabigha Meluluhkan Hati Raja
Oleh Wahyu Hanafi*

An-Nabigha Az-Zibyani adalah salah satu dari sastrawan Arab Jahily pra-Islam yang sering disebut sebagai tokoh pertama dari ke-Enam para sastrawan Arab Jahily "Muallaqat". Hidup di zaman fatrah "masa tiada utusan diantara para Rasul", sekitar tahun (535-604 M).

An-Nabigha terlahir dari suku Bani Dhubyan yang berada di dekat distrik kota Makkah. Ia memenuhi kebutuhan hidup dari hasil karya sastranya.

Hidup di tengah perselisihan Raja Harah dan Raja Ghassan, Banu Abs dan Banu Dhubyan, ia menulis karya sastra berupa puisi-puisi Arab yang bertajuk sindiran dan keprihatinan terhadap mereka.

Dahulu kala, berbagai penjuru bangsa Arab sering mengadakan perlombaan deklamasi dan berpuisi di pasar Ukadz. Sebuah pasar tradisional yang terletak di jazirah Arab. Selain untuk perdagangan, pasar ini juga digunakan untuk ruang perjumpaan politik, perserikatan, hingga musyawarah perdagangan. Tidak mengherankan jika pasar Ukadz menjadi titik temu peradaban masyarakat Arab klasik dengan lantaran ekonomi, sosial, dan politik.

Di pasar itu pula An-Nabigha sering menjadi dewan juri deklamasi dan puisi. Para sastrawan berlomba-lomba melantunkan karya orisinalnya dengan berbagai ekspresi puitiknya.

Karya sastra yang dinilai baik oleh An-Nabigha akan ditulis ulang dengan tinta emas dan ditaruh di dinding Kabah sebagai bentuk apresiasi. Dengan jalan ini, An-Nabigha disegani masyarakat Arab dan dimudahkan mengais rizki.

Sisi lain dari An-Nabigha adalah selalu dekat dengan Raja Hirah. Hampir sisa hidupnya dihabiskan di istana raja. Ia sering membuat puisi untuk raja. Saat matahari terbit di pagi hari, ia memuji sang raja dengan lantunan puisi;

فإنك شمس والملوك كواكب # إذا طلعت لو يبد منهنّ كوك

"Sesungguhnya kamu adalah matahari dan raja-raja selainmu adalah bintangnya, yang mana jika matahari terbit, maka bintang-bintang akan menghilang dari penglihatan".

Karena kedekatannya dengan sang raja, suatu saat raja merasa cinta kepada An-Nabigha. Segala keinginannya dipenuhi. An-Nabigha menjalani hidup dengan terhormat. Namun, kenyataan ini tidak berjalan mulus.

Terdapat seorang sebaya dirinya merasa iri. Ia menghasut raja Harah sehingga raja terkontaminasi dan hendak membunuhnya. Mendengar hal demikian dari salah satu prajurit kerajaan, An-Nabigha berlari ke Raja Ghassan untuk meminta perlindungan. Namun tidak berhasil.

Ia kembali kepada raja Harah dan berusaha membersihkan namanya. Lalu ia meminta maaf kepada Raja meski merasa tidak bersalah dengan lantunan puisi;

فإنك شمس والملوك كواكب # إذا طلعت لو يبد منهنّ كوكب

"Sesungguhnya engkau bagaikan malam yang kujelang meski aku didera kehampaan, tetapi tempat bermaaf darimu sungguh luas membentang". 

Karena raja Harah sudah hidup lama dengan An-Nabigha, raja Harah bermurah hati dan memberi maaf. Mereka hidup berdampingan kembali dan singgah bersama di istana Harah.

An-Nabigha diberi usia yang panjang dan meninggal menjelang keutusan Nabi Muhammad Saw.

*Wahyu Hanafi, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab INSURI Ponorogo, Pegiat linguistik dan sastra Arab. Saat ini mengemban amanah sebagai ketua Redaksi Jurnal Scaffolding Fakultas Tarbiyah INSURI dan aktif menjadi pembicara di beberapa konferensi linguistik dan sastra Arab di tingkat nasional dan internasional