Kuatkan Moderasi Beragama kepada Mahasiswa Baru, INSURI Gelar Studium Generale

20 September 2021 11:37
Kuatkan Moderasi Beragama kepada Mahasiswa Baru, INSURI Gelar Studium Generale
Oleh Admin INSURI

Ponorogo (14/9) Mengawali perkuliahan Tahun Akademik 2021/2022, INSURI Gelar Studium Generale dengan tema “Aktualisasi Moderasi Beragama di Era Digita”. Kegiatan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru INSURI. Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. M. Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I. “Kita tunjuk beliau karena memiliki kapasitas keilmuan di bidangnya dan skill komunikasi yang baik”, uangkap salah satu panitian kegiatan saat ditemui awak media INSURI.

Gus Asvin, sapaan akrabnya menjelaskan ,“moderasi beragama sebenarnya bukan isu baru, ulama klasik sudah membahasnya semenjak abad pertengahan. Namun aktualisasi daripada itu terus berkembang hingga saat ini terlebih di era digital”. “Islam sangat menaruh perhatian atas sikap toleransi kepada seksama manusia baik dari sudut pandang agama, sosial, dan budaya. Hal demikian sebagai identitas bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alaimiin”, adanya perbedaan dalam setiap gagasan, keyakinan, dan perilaku merupakan sunnatullah”, imbuhnya.

Moderasi beragama di era digital dapat diaktualisasikan dengan mengatur sikap untuk bijak berkomunikasi, terlebih saat menggunakan media sosial. Media sosial telah menjadi platform yang cepat dalam merespon segala bentuk komunikasi verbal. Jika kita amati, warganet lebih antusias dalam merespon komunikasi destruktif, tanpa tahu kebenarannya. Mahasiswa harus lebih bijak dalam menyikapi persoalan destruktif di media sosial, bukan menambah gaduh atas pemberitaan yang tersebar. Islam hadir sebagai ruh perdamaian. Dr. Ahmad Syafii SJ.,M.S.I selaku Wakil Rektor Akademik memberikan apresiasi atas terlaksananya keiatan ini dan mengungkap, “kegiatan ini sangat perlu dilaksanakan, mengingat INSURI ialah salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang menjadi sumber atas ajaran moderasi beragama. Maka sudah selayaknya mahasiswa mengetahui konsep moderasi beragama sebagai kontrol memahami agama”.