Camat Sampung Tegaskan Peran KPM sebagai Ruang Pembelajaran Sosial Mahasiswa di Tengah Disrupsi Teknologi

28 Agustus 2026 13:07
Camat Sampung Tegaskan Peran KPM sebagai Ruang Pembelajaran Sosial Mahasiswa di Tengah Disrupsi Teknologi
Oleh Admisi INSURI

INSURINEWS – Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tidak semata-mata menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi. Lebih dari itu, pengalaman berinteraksi secara langsung dengan masyarakat menjadi proses pembelajaran sosial yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh di ruang kelas.

Hal tersebut disampaikan Camat Sampung, M. Lukman Wakhidi, S.STP., dalam kegiatan penarikan dan penyerahan kembali mahasiswa KPM Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo di Kecamatan Sampung, Jumat (28/8/2026).

Dalam sambutannya, Camat Sampung mengajak mahasiswa memandang berakhirnya KPM bukan sebagai perpisahan, melainkan sebagai salah satu tahap pembelajaran untuk memahami kehidupan masyarakat secara lebih nyata.

“Ini bukan perpisahan. Mahasiswa tentunya mendapatkan banyak hal dalam rangka mengaplikasikan perkuliahannya. Meskipun banyak hal yang tidak bisa dipelajari di bangku kuliah, nantinya mahasiswa juga akan menjadi bagian dari masyarakat.”

Menurutnya, pendidikan pada dasarnya memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir manusia. Tantangan tersebut semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, perubahan generasi, dan masuknya masyarakat ke dalam era kecerdasan buatan serta revolusi industri 5.0.

“Tujuan pendidikan pada prinsipnya adalah merubah pola pikir yang nantinya akan menjadi tantangan, khususnya di era globalisasi, generasi Alpha, Beta, AI, dan revolusi industri yang sudah memasuki 5.0.”

Ia kemudian mengajak mahasiswa untuk tidak hanya mempersiapkan kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga memahami aspek kemanusiaan yang menjadi pembeda ketika teknologi semakin berkembang.

“Kemungkinan-kemungkinan ini pada masanya akan menggantikan kerja manusia dan menjadikan mereka rujukan. Lalu bagaimana kita berperilaku yang membedakan kita dengan AI.”

Menurutnya, pengalaman mahasiswa selama KPM menjadi penting karena masyarakat memiliki latar belakang, karakter, dan sudut pandang yang beragam. Kondisi tersebut membuat mahasiswa harus belajar membangun komunikasi, memahami perbedaan, serta menemukan titik temu dalam kehidupan sosial.

“Ketika terjun ke masyarakat dengan banyaknya latar belakang, pasti ada paksaan-paksaan interaksi yang menjadikan mahasiswa memiliki pengalaman yang banyak.”

Dalam menghadapi kompleksitas tersebut, ia menekankan pentingnya kompromi, harmonisasi, dan kolaborasi agar berbagai kepentingan dapat berjalan berdasarkan kesepakatan bersama.

“Kompromi, harmonisasi, kolaborasi sehingga semuanya bisa berjalan sesuai kesepakatan yang telah disepakati.”

Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi mahasiswa setelah menyelesaikan KPM. Pengalaman positif selama berada di masyarakat dapat menjadi bekal, sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan pun dapat ditempatkan sebagai pembelajaran untuk memahami kompleksitas kehidupan sosial.

Camat Sampung juga menyampaikan apresiasi kepada INSURI Ponorogo yang telah memberikan kepercayaan kepada Kecamatan Sampung sebagai lokasi pelaksanaan KPM. Ia berharap kerja sama tersebut dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang.

“Kami berterima kasih kepada institut yang sudah memberikan kepercayaan wilayah Kecamatan Sampung menjadi lokasi KPM. Harapannya tidak hanya tahun ini, tetapi tahun-tahun selanjutnya.”

Dengan demikian, KPM tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik mahasiswa, tetapi juga menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa belajar memahami masyarakat, menguji kemampuan berkomunikasi, membangun kolaborasi, dan menemukan makna pengabdian secara langsung. Dokumen penutupan KPM INSURI Ponorogo sendiri menempatkan kegiatan tersebut sebagai proses mahasiswa untuk hadir, berinteraksi, mengabdi, dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.