'Menggugat' Pembelajaran Daring

20 November 2021 06:13
'Menggugat' Pembelajaran Daring
Oleh Murdianto An Nawie

sumber foto: https://nu.or.id/daerah/saat-kang-santri-belajar-dari-rumah-0YZo2

“Kagak perlu kuliah atau sekolah tinggi-tinggi jika tujuannya hanya ingin pintar. Jika pintar hanya bermakna tingkat pengetahuan, maka pengetahuan kini sangat mudah didapat. Klik mesin pencari, semua pengetahuan telah ada. Kalau belajar hanya untuk pintar, mah Google lebih pintar. Belajar itu tidak sesederhana itu Ferguso!”

Pernyataan diatas disampaikan seorang siswa, dan viral beberapa waktu lalu. Pernyataan ini diarahkan pada kegelisahannya terkait pembelajaran daring, dan wacana untuk menjadikan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai kebijakan permanen. Nampaknya pernyataan itu sederhana, tapi sesungguhnya dia menyentuh sisi filosofis terdalam. Siswa sedang mempertanyakan kembali: apa hakikat belajar? Apakah pembelajaran daring ini dapat menyentuh sisi mendalam dari hakikat belajar ini?

Destruksi makna

Problema pembelajaran daring, bukan semata soal ketersediaan sarana dan prasarana belajar misalnya smartphone, jaringan internet, kepemilikan kuota, sinyal atau jaringan listrik. Jika masalahnya soal infrastruktur, maka tentu negara dapat secara bertahap memenuhinya. Namun pengalaman pembelajaran daring yang terjadi disepanjang Pandemi ini menunjukkan paradoks mendasar. Yakni suatu ‘destruksi makna terhadap aktifitas belajar.

Meskipun terasa berbau sarkas pilihan kata ‘destruksi makna’ alias ‘perusakan hakikat belajar’, menemukan relevansinya. Belajar pada hakikatnya adalah ‘proses’, proses pendidik dan peserta didik berinteraksi untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, dan tingkah laku melalui seperangkat pengalaman baik individual maupun kolektif. Pendidik dan peserta didik ‘ada dan hadir’ dalam suatu ruang interaksi yang bermakna. Tentu kita perlu mencermati konsep ‘ada dan hadir’ ini. Pada masa Pandemi Covid 19, saat pembelajaran daring menjadi pilihan paling mungkin, ‘ada dan hadir’ ini direduksi sebagai ‘ada dan hadir’ secara virtual dan semu.

Lantas, adakah saat pendidik dan peserta didik hadir secara virtual dalam suatu interaksi pembelajaran? Kehadiran pendidik secara fisik, berarti pula kehadiran ekspresi verbal (lisan sekaligus tulis), ekspresi non verbal (ekspresi wajah, intonasi, tempo saat berbicara), kehadiran harapan-harapan positif melalui kontak mata dan sentuhan bermakna, hadirnya tindak pembelajaran secara utuh dan kehadiran sosok teladan dihadapan peserta didik.

Berbagai riset menunjukkan beberapa variabel yang menentukan hasil belajar. Bukan hanya hasil belajar kognitif, namun utamanya hasil belajar berupa pembentukan karakter, penanaman nilai kebaikan (goodness) serta keterampilan lain yang lebih kompleks (hardskill dan soft skill).

Seorang pendidik dapat memberikan semangat, menghilangkan badmood peserta didik dengan duduk setara di hadapan seorang anak usia sekolah dasar, dimana suatu sesi komunikasi lisan, kontak mata serta sentuhan pada pundaknya diberikan. Satu contoh kecil yang tidak akan terjadi dalam suatu sesi pembelajaran daring. Interaksi serupa ini mesti terjadi proses belajar yang memiliki tujuan lebih kompleks. Belajar tidak mungkin hanya suatu program atau aplikasi e-learning dimana individu digerakkan untuk berinteraksi dengan sumber belajar digital, dari satu tahap ke tahap lain sebagaimana robot di gerakkan.Barangkali dalam penguatan kognitif hal tersebut bisa didapat, meskipun tidak lebih maksimal daripada interaksi langsung dengan pendidik disertai ragam sumber belajar, termasuk sumber dan media digital.

Jika ke depan pembelajaran digital, atau pembelajaran daring  menjadi pilihan dimasa yang akan datang, tentu kehadiran pendidik sama sekali tak tergantikan dengan robot secanggih apapun. Kehadiran media digital tidak akan dapat mendisrupsi secara total kehadiran pendidik sebagai teladan, kurikulum ‘abadi’ dan pemberi harapan positif bagi peserta didik. Bisa jadi guru tidak secerdas mesin pencari Google, Bing atau Yahooo!, tapi tatapan matanya, sapaan hangatnya justru lebih berdampak pada peserta didik dalam perkembangan menyeluruh dalam diri manusia. [/mr]